Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email
Touch ME slider for IOS, Android and Desktop.
Hardware accelerated using CSS3 for supported iOS
and enjoy the Amazing Slide Experience.
20 Mar 2016
Responsive Design, that will make you blow away.
Hardware accelerated using CSS3 for supported iOS
and enjoy the Amazing Slide Experience.
20 Mar 2016
Flexible Display providing efficient compatibility.
Hardware accelerated using CSS3 for supported iOS
and enjoy the Amazing Slide Experience.
20 Mar 2016
Customize it to the deepist according to the needs.
Hardware accelerated using CSS3 for supported iOS
and enjoy the Amazing Slide Experience.
20 Mar 2016

Kamis, 05 Juni 2014

Anak Tumbuh Menjadi Diri Sendiri

moderatland










Mini me parenting bukan jalan pintas menuju sukses mengasuh anak. Jangan  bentuk manusia 'kloning' karena bisa membuat Anda dan balita frustrasi bila Anda tak berhasil. Asuh anak menjadi dirinya sendiri! Bantu anak membangun dirinya menjadi orang yang:

1. Yakin bisa meraih mimpi dengan caranya sendiri.
  • Katakan pada anak bahwa Anda yakin dia mampu melakukan apa saja yang dia inginkan.  
  • Bangun sikap optimis. Jangan menakut-nakuti anak karena malah bisa membentuk sikap pesimis. Katakan, “Kamu pasti bisa! Apa masalahmu, apa yang bisa kamu lakukan?”
2. Percaya diri. Bagaimana anak bisa percaya diri bila Anda tak percaya padanya?
  • Percayakan sebuah tugas pada anak untuk dijalankan sesuai caranya. Misalnya mengambilkan makanan untuk kucing peliharaannya. Bisa dengan cara menuang makanannya langsung ke piring makan kucing, atau menuangnya lebih dahulu ke tangan balita baru dimasukkan ke dalam piring makan kucing. Tak ada satu cara yang paling benar. Yang penting anak tidak lalai melakukan tugasnya.
  • Berdayakan anak, ajarkan tanggung jawab dengan mengizinkannya membuat pilihan secara mandiri. Misalnya, beri kebebasan untuk mandi atau gosok gigi dulu. Dangan begitu anak akan bertanggung jawab dan menghadapi konsekuensi dari pilihannya.
3. Menyadari keunikan dengan memberi anak kesempatan bertanya tentang segala hal yang harus dia lakukan.
  • Izinkan anak menjadi seorang individu. Anda boleh saja memilihkan tari Bali untuk balita. Tapi izinkan dia bertanya. “Mengapa aku harus belajar tari Bali, Bunda? Aku mau balet saja karena baju balet tidak susah dipakainya.” Dan terima kenyataan atau keinginannya ini.
  • Izinkan anak berpikir, mengekspesikan pendapatnya sendiri. Hindari mendorong anak patuh tanpa syarat. “Bunda, aku belum tahu yoga itu apa. Tapi kalau ternyata aku nggak suka, boleh ganti  belajar menari?” Dengan menghargai pemikirannya, Anda mengajarnya menghargai kemampuannya sendiri untuk disumbangkan pada  dunia.
  • Perbolehkan anak menolak pilihan Anda. Meski belum bisa bicara, anak bisa menggelengkan kepalanya melihat baju yang Anda pilihkan saat mengajaknya ke toko pakaian. Dia menunjuk apa yang dia mau.
4. Mencintai diri. Cintai anak Anda dengan cerdas, agar dia mencintai diri sendiri, tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif dari lingkungannya. Anak berbuat salah, itu biasa. Anak mengambil keputusan dan menyesali keputusannya, juga hal biasa. Jangan mengolok-olok kesalahannya sebagai kebodohan yang patut Anda tertawakan atau Anda cerca habis-habisan. Anak yang sering diolok-olok dan dipermalukan belajar membenci dirinya.

5. Selalu bersemangat dengan memberinya pujian
yang tepat serta dukungan yang   realistis. Jujur mengatakan hasil kerja balita bagus atau “dia masih bisa lebih bagus lagi”. Tidak semua yang dilakukannya patut dipuji. Memberi pujian untuk hal-hal yang mudah dilakukan anak, bisa membuatnya malas berjuang.  Memberikan pujian hanya bila balita patuh dan memenuhi keinginan Anda, tidak membuatnya bersemangat karena anak cerdas dan kreatif tidak suka meniru-niru.

6. Memelihara mind set yang baik. Apa pun yang dilakukan dengan sungguh-    sungguh dan bertanggung jawab adalah baik. Bukan “yang menurut ayah baik, itu     yang terbaik” atau “apa pun yang ditiru dari bunda dan ayah adalah yang terbaik”.     Jangan dorong anak untuk menjalankan passion Anda karena dia akan meniru habis-    habisan apa pun yang Anda lakukan dengan cara apa pun. (me) copas.ayahbunda.co.idhttp://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Psikologi/Keluarga/biarkan.anak.tumbuh.jadi.diri.sendiri/001/007/1041/3

Manfaat buku bantal untuk Bayi

moderatland




Untuk apa membacakan buku pada bayi yang samasekali belum punya kosakata? Wiliam Staso, PhD dalam bukunya Neural Foundation, What Stimulation Your Baby Needs to Become Smart menyebut bahwa membaca adalah kesempatan menjalin bonding, mengasah kemampuan mengingat dan segudang manfaat lainnya. Bingung memulainya? Lakukan langkah ini.
  • Usia 0-2 bulan, jarak pandang bayi sekitar 20-25 cm, ia senang melihat wajah terutama ibunya meski masih samar. Bacakan buku dengan suara lantang dan jelas, ini kesempatan mengenalkan dan membiasakannya mendengar suara Anda.
  • Usia 2-4 bulan, jarak pandangya 45 cm dan sudah bisa mengikuti gerakan,  berinteraksi dan melakukan kontak mata. Coba lihat, ia bisa menatap Anda sambil tersenyum manis kan? Gunakan buku bergambar tanpa cerita atau dengan satu sampai dua kata di bawah gambar dengan warna kontras. Di usia 4 bulan, ia bisa tahu saat namanya disebut, coba masukkan namanya dalam tokoh cerita yang Anda bacakan.
  • Usia 4-6 bulan, ia kenal wajah Anda, matanya akan mengikuti kemanapun Anda bergerak. Ayo bereksperimen dengan benda berbagai ukuran dan tekstur. Bawa ia ke pangkuan Anda, hadapkan dengan buku sambil menunjuk dan menyebut nama benda dalam buku. Perhatikan reaksi bayi Anda sebagai alarm untuk berhenti atau melanjutkan membaca.
  • Usia 6-12 bulan, ia bisa mengenali gambar dan warna dengan jelas, termasuk bayangan dirinya di cermin atau foto. Posisikan bayi di pangkuan Anda berhadapan dengan buku, biarkan ia meraih bukunya yang berbahan lembut. Jika mungkin, berikan buku bergambar wajah bayi agar dia melihat wajah teman-temannya.
  • Usia 12-18 bulan, jarinya bisa menunjuk gambar yang menarik perhatian dan membolak balik halaman buku. Coba tanya padanya 'dimana kucingnya?'tentu dia bisa menunjukkannya. Di usia ini dia udah bisa memilih buku untuk dibaca bersama dengan Anda. Buat cerita lebih interaktif dengan bertanya 'makan apa sapinya?' 'siapa yang bermain air?' dan berikan ia waktu untuk menjawab. Korelasikan cerita yang dibacakan dengan pengalaman sehari-harinya.
  • Usia 18-24 bulan, dia sudah kuat membolak balik halaman buku dengan mudah, tak pelu heboh melarang saat dia menjinjing buku berkeliling rumah, tandanya ia menganggap buku sebagai teman. Sebut dengan jelas nama benda yang akrab dengan anak, minta dia melakukan cerita yang pernah Anda bacakan berulang kali. Coba perhatikan, ia sudah bisa bercerita pada boneka atau ikan di akuarium. 
copas by ayahbunda.co.id 

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Distributed By Gooyaabi Templates